Cerita Wattpad: Menuju Dewasa

#1 NADIA

"Menjadi orang dewasa adalah impian bagi anak-anak kecil dan kembali ke masa anak-anak adalah keinginan bagi sebagian orang dewasa."

"Sebagai makhluk hidup yang disebut manusia, kita tidak mampu menolak apa pun yang sudah di gariskan oleh-Nya, sang pemilik kekuasaan tertinggi diatas Arasy."
_Niah
______________________
Author:
Menjadi dewasa memang bukanlah hal yang mudah dan menjalaninya pun tak semudah saat kita mengutarakan keinginan kita untuk menjadi orang dewasa di masa kecil dulu. Semua anak-anak ingin segera menjadi dewasa karena mereka berpikir bahwa dengan menjadi orang dewasa mereka berhak untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan tanpa mendapatkan larangan dari orang tua mereka. Hal tersebut masih dapat dimaklumi karena mereka belum mengerti dan paham bahwa menjadi dewasa adalah sebuah tantangan.

Untuk memulai cerita ini kita akan ditemani oleh Nadia. Seorang gadis berusia 21 tahun yang sedang dalam perjalanan menuju fase dewasa. Dia akan berbagi cerita tentang pengalamannya yang menurut author "luar biasa".

Nadia:
Halo perkenalkan aku Nadia. Aku anak sulung dari 4 bersaudara. Disini aku ingin berbagi cerita tentang kisah hidupku yang selama ini belum ku ceritakan kepada siapapun kecuali kepada si author. Sejak kecil aku dikenal sebagai anak yang sangat penurut dengan orang yang lebih tua terlebih kepada kedua orang tuaku. (Penurut belum tentu baik ya.) Semua perintah dan larangan mereka selalu kujalani walau terkadang ada hal yang tak kusetujui dan itu membuatku tidak nyaman. Bahkan hingga saat ini aku masih mengingat suatu kejadian saat aku masih berusia sekitar 7 tahun dimana saat itu maaf sebagai anak kecil yang bandel aku pernah berkata-kata yang tak seharusnya dikatakan oleh anak kecil kepada orang tua.

Setelah berada di fase sekarang aku tersadar bahwa semua kejadian itu sangat, sangat, dan sangat memiliki keterkaitan dengan pola asuh atau cara mendidik anak didalam keluarga. Aku dibesarkan oleh orang tua yang memiki gaya pola asuh otoriter, yaitu jenis pola asuh dimana seorang anak tidak memiliki hak untuk menolak apa yang dikatakan oleh orang tua. Sekali A tetap A dan kalau pun kamu benar orang tua lah yang paling benar. Tersiksa?? iya tapi sekarang aku sudah paham kenapa mereka bertindak demikian. (Semua demi kebaikan.) Aku ingin sedikit menyampaikan pesan untuk kalian yang sudah berkeluarga dan yang akan menjadi orang tua: "jangan selalu memaksakan kehendak kalian kepada anak-anak karena apa yang kalian katakan dan lakukan akan membekas didalam diri mereka. Saat kecil mereka mungkin hanya bisa menangis dan tidak bisa melakukan apapun. Tapi ingat, suatu saat mereka akan tumbuh dewasa dan jangan sampai mereka melakukan hal yang sama saat kalian sudah lanjut usia. Rawat dan didik mereka dengan sabar karna itu sudah menjadi salah satu tugas kalian menjadi orang tua."

Pesan untuk anak-anak/remaja:
"Jangan pernah menaruh dendam, teruslah berpikir yang baik-baik karna setiap tindakan orang tua pasti didasari oleh niat baik hanya saja cara mereka yang salah dalam mendidik. Tetap turuti apa perkataan mereka, (jangan lupa dengan kalimat ridho Tuhan tergantung ridho orang tua) , Ambil baiknya buang buruknya, karena kalian adalah harapan mereka."

Mari kembali ke cerita, selain memiliki masalah dengan pola asuh orang tua, aku juga seringkali tertimpa musibah dan mendapat masalah sejak SD karna kondisi tubuhku yang lemah dan sangat mudah terjatuh. Terjatuh dari tangga dan keseleo karna salah pake sendal itu sudah menjadi hal yang biasa. Di tahun 2008 kurang lebih 2 minggu sebelum lebaran idul fitri, aku hampir meninggal dunia karena terjatuh dari atas pohon. Saat itu aku bersama dengan adik pertama dan sepupu ku sedang memanjat pohon lobe-lobe (buah kersen ukuran besar sejenis anggur).

Singkat cerita, aku sudah berada di bagian tertinggi pohon itu dari atas sana aku sudah mulai mendengar suara lantunan shalawat dari radio masjid. "Sebentar lagi buka puasa." Ucapku saat itu. "Kak Nadiaa ayoo turunnn!!bentar lagi buka puasa!!" teriak adik dan sepupuku yang sudah lebih dulu turun. "Iya tunggu!" satu persatu ranting pohon kutapaki dengan kaki ku yang pendek. Tiba-tiba pandangan ku tertuju pada satu biji buah kersen yang sangat besar dan ranum. Aku berhenti sejenak sambil memperhitungkan jarak tubuhku dengan kersen itu "ah, tidak terlalu jauh kok" aku pun mencoba untuk berpindah kebagian ranting/batang pohon yang lain. Saat melangkah, aku mendapat firasat kalau aku terus melangkah ke arah buah itu aku akan terjatuh. "Tapi kalau aku ngga melangkah kan buah nya ngga bakalan dapat" gumamku. "Kalau ngga melangkah juga gimana caranya aku turun. Masa iya aku tidur diatas pohon??" Aku pun memberanikan diri untuk melangkah dan semua menjadi gelap. Aku terjatuh.
.................
3 hari kemudian aku terbangun dari "tidur" ku. Aku melihat cahaya lampu yang sangat terang dan orang-orang yang terbaring lemah diatas bed/tempat tidur RS rujukan di kota. Tubuhku terasa remuk, pandanganku buram. "Aku dimana??" ucapku sambil meneteskan air mata. "Nadia!!!!" dari sisi kiri tempat tidur tiba-tiba ibu memelukku dengan erat. Air mataku kembali mengalir deras. "Alhamdulillah kamu sudah sadar nakkk" ucap ibuku sambil menghapus air mata di pipi nya. "Sindi mana Bu??" tanyaku sambil sesenggukan. Sindi adalah adik perempuan kedua ku yang saat itu berusia 1 tahun lebih. "Untuk sementara Sindi nginap sama bibi mu." "Ngga mauuu!!aku mau pulang!! Aku mau ketemu sindii!!" Aku menghentak-hentakkan kakiku. "Ngga boleh nak. Sindi masih kecil, dia ngga boleh masuk kesini."

Beberapa hari kemudian saat kondisi tubuhku sudah mulai membaik, aku melihat ibuku makan dan baju yang ibu kenakan tampak basah karna air asi nya terus keluar. Sementara Sindi masih tinggal bersama paman dan bibiku. Aku pura-pura tidur agar ibu tidak menghentikan makannya. Dalam diam aku terus menyalahkan diriku sendiri "ini semua salahku, ibu jadi repot, ibu ngga bisa nyusuin adek!! Aku bodoh!! Pembuat masalah!!!"

Setelah kurang lebih seminggu terbaring di RS, akhirnya aku bisa kembali pulang ke rumah. Saat berada di lobi RS, aku duduk di kursi roda dan iseng memainkan rodanya dan "Nadia!!!" teriak ayahku panik karena aku hampir terjatuh LAGI.
..........
Satu persatu teman-teman dan keluarga mulai berdatangan ke rumahku untuk menjenguk dan mendoakan agar aku cepat sembuh. Paman-paman dan bibi-bibi berkumpul di bagian bawah rumah sementara para anak-anak mengelilingi tempat tidur ku. "Ani, waktu aku terjatuh apa yang terjadi?" "Iya apa yang terjadi Ani??" "Iya nih aku kepo." "Sudah-sudah duduk yang rapi dan dengar baik-baik."

Flashback.
Gubrakkkkkkk!!!!
Kyaaaaa!!kak Nadiaaaaaaaaa!!!!!
Tubuh Nadia langsung terhempas ke tanah yang cukup keras, dari hidung, telinga,dan mata keluar darah, pupil matanya ke arah atas dan hampir tak terlihat lagi, suara napas nya bergemuruh.

"Kak Ani!! Kak Nadiiaaaa!!" Teriak Dila (adik pertamaku). "Cepat panggil ayah dan ibu!!!!!" "Kamu tunggu disini!!!!" Teriak Ani sambil meneteskan air mata, badannya bergetar, mereka panik. "Kak Nadiiaaaa, jangan matiiiii hwuuuuu!!!"

"Astagfirullahaladzim!!!!!!! Nadia!!!" Teriak bibi Ati saat melihat Dila menjerit histeris melihat kakak nya tergeletak tak berdaya. "Ini kenapa??? ya Allah? Cepat panggil ayah dan ibu mu!!". Dila tidak mampu berjalan lagi ia sangat shock melihat kondisi kakaknya. Sementara itu di rumah Nadia yang tak jauh dari lokasi kejadian, ibunya sedang memasak menu buka puasa, ayahnya baru saja pulang dari sawah. Ani bingung harus berkata apa. Ia dihantui oleh rasa ketakutan, badannya masih bergetar. "Eh, Ani kamu kenapa nak??". "Bibiiiii..." "Iya. Kamu kenapa??? Nadia mana?".... "Bi, Nadia jatuh dari pohon!!!!" Bagai disambar geledek, tubuh ibu Nadia langsung terkulai lemas dan tak mampu berkata apa-apa. Ia menangis histeriss sementara ayah Nadia yang mengetahui hal itu langsung berlari menuju ke lokasi kejadian. Setelah mengumpulkan tenaga ibu Nadia pun menyusul.

Suasana menjadi ramai, orang-orang yang melintasi jalan langsung menepikan kendaraan nya, para orang tua yang baru saja pulang dari sawah juga ikut singgah karena penasaran dengan apa yang terjadi. Teman-teman dan sepupu-sepupu Nadia tak mau ketinggalan. Disepanjang perjalanan, ibu Nadia melihat kerumunan orang-orang ia merasa sudah tak kuasa melangkah. Pikirannya sudah kemana-mana, "anakkuuuuu!!!!" ia kembali melangkah dan berteriak histeris. Sementara ayah Nadia masih sedang berusaha mengangkat tubuh anak sulungnya dengan berlinangan air mata, tubuhnya masih terkulai lemas. Ayah dan ibu Nadia langsung berusaha untuk menyadarkan Nadia dan tiba-tiba hwokkkk!!! Nadia muntah darah. Suasana semakin kacau. Tak lama setelah itu paman Nadia datang membawa motor dan segera membawa Nadia ke puskesmas terdekat. Setibanya mereka di sana, dokter segera memeriksa kondisi Nadia dan menyarankan agar Nadia segera di rujuk ke RS daerah. Sesampainya di RS daerah, Nadia sedikit membuka mata dan kembali tidak sadarkan diri. Lagi lagi dokter di RS itu menyarankan agar Nadia kembali di rujuk ke RS yang ada di kota, kondisinya memburuk, suara napasnya semakin bergemuruh, darah terus keluar. Paman dan bibi Nadia berusaha untuk menenangkan kedua orang tua Nadia yang terus menangis histeris. Setelah diterima di RS kota itu Nadia segera diberikan penanganan hingga akhirnya setelah 3 hari tidak sadarkan diri Nadia kembali membuka matanya.
-----
"Setelah mengalami kejadian itu, aku menjadi sangat bersyukur karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk tetap hidup dan aku percaya aku kembali hidup karena sebuah alasan. Ayah, ibu maaf saat itu aku membuat air mata kalian menetes."
-Nadia-
-----
Author:
Jika part ini berisi tentang kisah Nadia semasa kecil maka next part Nadia akan menceritakan kisah hidupnya yang kembali di uji setelah memasuki usia remaja.

Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar yak, terimakasih💌

Akun cerita wattpad